1. Model Waterfall
Pada model Waterfall atau disebut model air terjun, ada beberapa fase
yang harus kita terapkan,yaitu:
1.
Analisi kebutuhan lalu pendefenisiannya
2.
Perancangan Sistem dan Perangkat lunaknya
3.
Implementasi dan unit testing
4.
Integrasi dan pengujian sistem
5.
Pengoprasian dan persawatan
Dimana sebuah proses akan kembali ke state sebulumnya agar
tidak ada perubahan setelah proses menuju state di bawahnya sebab sangat sulit.
Proses waterfall dapat di gambarkan sebagai berikut
Pertama: Analisis dan Definisi Persyaratan melingkupin Pelayanan,
batasan, dan tujuan sistem ditentukan melalui konsultasi dengan user sistem.
Kedua: Perancangan sistem dan Perangkat Lunak melingkupin
Proses perancangan sistem membagi persyaratan dalam sistem perangkat
keras atau perangkat lunak,lalu menentukan arsitektur sistem secara
keseluruhan.
Ketiga: Implementasi dan pengujian unit : Perancangan perangkat
lunak direalisasikan sebagai serangkaian program atau unit program. Pengujian
unit melibatkan verifikasi bahwa setiap unit telah memenuhi spesifikasinya.
Keempat: Integrasi dan Pengujian Sistem dimana Unit program atau
program individual diintegrasikan dan diuji sebagai sistem yang lengkap untuk
menjamin bahwa persyaratan sistem telah dipenuhi. Nah yang terakhir yaituu…
Kelima : Operasi dan Pemeliharaan Biasanya
sih merupakan fase siklus yg paling lama (walaupun tidak seharusnya).dimana
Sistem diinstall dan di pakai. Pemeliharaan pun mencakup koreksi dan berbagai
error yg tdk ditemukan pada tahap-tahap sebelumnya, perbaikan atas implementasi
unit sistem dan pengembangan pelayanan sistem.
Oia.. ada juga
Kekurangan dan Kelebihannya:
a.
Kekurangan Model
Waterfall:
- Terjadinya pembagian proyek menjadi tahap-tahap yang
tidak fleksibel, karena komitmen harus dilakukan pada tahap awal proses.
- Hal ini mengakibatkan sulitnya untuk merespon perubahan
kebutuhan pengguna (user).
- Model air terjun harus digunakan hanya ketika persyaratan dipahami dengan baik
- Mudah diaplikasikan karena urutan-urutan
pengerjaan sudah sering dipakai; selain itu juga cocok untuk software
berskala besar dan yang bersifat umum; yang paling penting, karena
langkah-langkahnya sangat sekuensial, pengerjaan proyek akan mudah dikontrol
dan terjadwal dengan baik.
- Bisa
digunakan jika suatu persyaratan untuk membuat suatu software sudah
dipahami dengan baik dan sudah lengkap semua persyaratan yang ada.
c. Contoh
Penerapan dari Pengembangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development
Model
Contoh
dari penerapan model pengembangan ini adalah pembuatan program pendaftaran
online ke suatu Instansi Pendidikan. Program ini akan sangat membantu dalam
proses pendaftaran, karena dapat meng-efektifkan waktu serta pendaftar tidak
perlu repot-repot langsung mendatangi Instansi Pendidikan. Teknisnya adalah
sebagai berikut :
- Sistem program untuk
pendaftaran dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP, dengan Sistem
Database yang dibuat menggunakan MySQL, dan diterapkan (diaplikasikan)
pada PC (personal computer) dengan sistem operasi berbasis Microsoft
Windows, Linux, dan sebagainya.
- Setelah program selesai dibuat
dan kemudian dipergunakan oleh user, programmer akan memelihara serta
menambah atau menyesuaikan program dengan kebutuhan serta kondisi user
2. Model RAD
Model RAD mengadopsi dari model waterfall
- RAD adalah model proses pembangunan perangkat lunak yang
incremental.
- RAD menekankan pada siklus pembangunan yang
pendek/singkat.
- RAD mengadopsi model waterfall dan pembangunan dalam
waktu singkat dicapai dengan menerapkan component based construction.
- Pada model ini waktu yang singkat yang di gunakan pada
model tsb.
- Jika kebutuhan lengkap dan jelas maka waktu yang
diperlukan kira2 60 sampai 90 hari
Gambarnya kurang lebih seperti ini:
Penjelasan :
1. Business modelling
: berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti informasi apa yang
mengendalikan proses bisnis? Informasi apa yang dihasilkan? Siapa yang
menghasilkan informasi? Kemana informasi itu diberikan? Siapa yang mengolah
informasi?
2. Data modelling:
aliran informasi yang sudah didefinisikan, disusun menjadi sekumpulan objek
data. karakteristik/atribut dan hubungan antar objek-objek tersebut à analisis
kebutuhan dan data
3. Process Modelling :
objek data yang sudah didefinisikan diubah menjadi aliran informasi yang
diperlukan untukmenjalankan fungsi-fungsi bisnis.
4. Application
Generation: RAD menggunakan component program yang sudah ada atau membuat
component yang bisa digunakan lagi, selama diperlukan.
5. Testing and
Turnover: karena menggunakan component yang sudah ada, maka kebanyakan
component sudah melalui uji atau testing. Namun component baru dan interface
harus tetap diuji.
Begitu juga Model ini mempunyai kelemahan dan kelebihannya:
a.
Kelemahan model
RAD:
- Sangat Tidak cocok untuk proyek skala besar
- Proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak
dipenuhi
b.
Kelebihan model
RAD:
- Lebih efektif dari pendekatan air terjun dalam
menghasilkan sistem yang memenuhi kebutuhan langsung dari pelanggan.
- Cocok untuk proyek yang memerlukan waktu yang singkat.
c.
Contoh Penerapan dari RAD
RAD sangat tepat
diterapkan untuk sistem yang
telah jelas dan lengkap kebutuhannya, di mana terdapat komponen-komponen yang
dapat dipakai kembali dalam proyek yang berskala kecil dengan waktu
pengembangan perangkat lunak yang singkat
3.Model Prototype
Metode prototyping
adalah sistem informasi yang menggambarkan hal-hal penting dari sistem
informasi yang akan datang. Prototipe sistem informasi bukanlah merupakan
sesuatu yang lengkap, tetapi sesuatu yang harus dimodifikasi kembali,
dikembangkan, ditambahkan atau digabungkan dengan sistem informasi yang lain
bila perlu.
Penjelasan dari gambar di atas sebagai berikut:
· User
merasa prototipe merupakan PL yang sesungguhnya, padahal ketika membuat prototipe
belum disertakan kualitas PL secara keseluruhan / kemampuan pemeliharaan untuk
jangka panjang
· Developer
sering membuat kompromi-kompromi implementasi untuk membuat prototipe bekerja
dengan cepat sehingga akan ditemui ketidakcocokan pada prototipe ketika
prototipe dibangun dengan bahasa yang sederhana
· Program
dibuat ulang / prototipe selalu baru
Mengacu pada pemilahan fungsi yang harus
ditampilkan oleh prototyping. Pemilahan harus selalu dilakukan berdasarkan pada
tugas-tugas yang relevan yang sesuai dengan contoh kasus yang akan diperagakan
a. Jenis-Jenis
Prototyping
- Feasibility prototyping –
digunakan untuk menguji kelayakan dari teknologi yang akan digunakan untuk
system informasi yang akan disusun.
- Requirement prototyping – digunakan
untuk mengetahui kebutuhan aktivitas bisnis user.
- Desain Prototyping - digunakan
untuk mendorong perancangan system informasi yang akan digunakan.
- Implementation prototyping – merupakan
lanjytan dari rancangan protipe, prototype ini langsung disusun sebagai
suatu system informasi yang akan digunakan.
Adapun keunggulan dan kelemahan dalam model prototype:
a.
Keunggulan
Prototyping:
·
user dapat berpartisipasi aktif
·
Penentuan kebutuhan lebih mudah diwujudkan
·
Mempersingkat waktu pengembangan SI
b.
Kelemahan
Prototyping :
·
Proses analisis
dan perancangan terlalu singkat
·
Mengesampingkan
alternatif pemecahan masalah
·
Bisanya kurang
fleksible dalam mengahadapi perubahan
·
Prototype yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah
·
Prototype terlalu cepat selesai
c. Contoh
Penerapan Metode Prototype.
Sebuah rumah sakit ingin membuat aplikasi sistem database
untuk pendataan pasiennya. Seorang atau sekelompok programmer akan melakukan
identifikasi mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh pelanggan, dan bagaimana
model kerja program tersebut. Kemudian dilakukan rancangan program yang
diujikan kepada pelanggan. Hasil/penilaian dari pelanggan dievaluasi, dan
analisis kebutuhan pemakai kembali di lakukan.
4. Model Spiral
Model ini cukup baru ditemukan,yaitu tahun 1988 oleh Barry Boehm. Spiral adalah
salah satu bentuk evolusi yang menggunakan metode iterasi natural yang dimiliki
oleh model prototyping dan digabungkan dengan aspek sistematis yang
dikembangkan model waterfall.
Spiral
model dibagi menjadi beberapa framework aktivitas, yang disebut dengan task
regions. Kebanyakan aktivitas2 tersebut dibagi antara 3 sampai 6 aktivitas.
Berikut adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam spiral model:
· Customer
communication. Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi
yang efektif antara developer dengan user / customer terutama mengenai
kebutuhan dari customer.
· Planning. Aktivitas
perencanaan ini dibutuhkan untuk menentukan sumberdaya, perkiraan waktu
pengerjaan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan software.
· Analysis risk. Aktivitas
analisis resiko ini dijalankan untuk menganalisis baik resiko secara teknikal
maupun secara manajerial. Tahap inilah yang mungkin tidak ada pada model proses
yang juga menggunakan metode iterasi, tetapi hanya dilakukan pada spiral model.
· Engineering. Aktivitas
yang dibutuhkan untuk membangun 1 atau lebih representasi dari aplikasi secara
teknikal.
· Construction &
Release. Aktivitas yang dibutuhkan untuk develop software, testing,
instalasi dan penyediaan user / costumer support seperti training penggunaan
software serta dokumentasi seperti buku manual penggunaan software.
· Customer
evaluation. Aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan feedback dari
user / customer berdasarkan evaluasi mereka selama representasi software pada
tahap engineering maupun pada implementasi selama instalasi software pada tahap
construction and release.
Berikut adalah gambar dari spiral model secara umum :
Adapun beberapa Kelebihan dan Kelemahan Model Spiral yang
ada:
a.
Kelebihan model
Spiral :
·
Dapat disesuaikan agar perangkat lunak bisa dipakai selama
hidup perangkat lunak komputer.
·
Lebih cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak
skala besar
·
Pengembang dan pemakai dapat lebih mudah memahami dan
bereaksi terhadap resiko setiap tingkat evolusi karena perangkat
lunak terus bekerja selama proses .
b.
Kelemahan model
Spiral:
·
Sulit untuk menyakinkan pelanggan bahwa pendekatan
evolusioner ini bisa dikontrol.
·
Memerlukan penaksiran resiko yang masuk akal dan akan menjadi
masalah yang serius jika resiko mayor tidak ditemukan dan diatur.
·
Butuh waktu lama untuk menerapkan paradigma ini menuju
kepastian yang absolute
c. Contoh
Penerapan Model Spiral
Model Spiral/Boehm sangat cocok diterapkan
untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak skala besar di mana
pengembang dan pemakai dapat lebih mudah memahami kondisi pada setiap tahapan
dan bereaksi terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan. Selain itu, diharapkan
juga waktu dan dana yang tersedia cukup memadai.
5. Model incremental
Model Incremental dalam rekayasa perangkat
lunak, menerapkan rekayasa perangkat lunak perbagian, hingga menghasilkan
perangkat lunak yang lengkap. Proses membangun berhenti jika produk telah
mencapai seluruh fungsi yang diharapkan.
Adapun beberapa tahapan yang ada pada model
incremental dimana tahapan-tahapan tersebut dilakukan secara berurutan.
Setiap bagian yang sudah selesai dilakukan testing, dikirim ke pemakai untuk
langsung dapat digunakan.
Tahapan Incremental Model adalah :
- Requirement
- Specification
- Architecture Design
Pada incremental model, tiga tahapan awal harus diselesaikan
terlebih dahulu sebelum sebelum tahap membangun tiap modal.
a. Model Incremental :
a. Model Incremental :
- Personil bekerja optimal.
- mampu mengakomodasi perubahan
secara fleksibel, dengan waktu yang relatif singkat dan tidak dibutuhkan
anggota/tim kerja yang banyak untuk menjalankannya.
- Pihak konsumen dapat langsung
menggunakan dahulu bagian-bagian yang telah selesai dibangun. Contohnya
pemasukan data karyawan.
- Mengurangi trauma karena
perubahan sistem. Klien dibiasakan perlahan-lahan menggunakan produknya
setiap bagian demi bagian.
- Memaksimalkan pengembalian modal investasi konsumen.
- Tidak cocok untuk proyek berukuran
besar (lebih dari 200.000 baris coding).
- Sulit untuk memetakan kebutuhan pemakai ke dalam rencana spesifikasi tiap-tiap hasil dari increament.
Perangkat
lunak pengolah kata yang dikembangkan dengan menggunakan paradigma pertambahan
akan menyampaikan manajemen file, editing, serta fungsi penghasilan dokumen
pada pertambahan pertama, dan selanjutnya. Pertambahan pertama dapat disebut
sebagai produk inti (core product). Dan pada pertambahan selanjutnya,
produk inti akan dikembangkan terus hingga menghasilkan produk jadi yang siap
untuk digunakan/dipasarkan.
6. WINWIN Spiral Model

Tahapan-tahapan WINWIN Spiral model:
1.
Identifikasi kunci sistem atau subsistem dari yang
berkepentingan
2. Penentuan
kondisi kemenangan dari yang berkepentingan
3. Negosiasi
kondisi menang yang berkepentingan agar terjadi kedamaian.
Berikut ada beberapa kelebihan dan kekurangan WINWIN Spiral Model
a.
Kelebihan :
·
Sama sama adanya kesepakatan developer dengan
customer
·
Terdapat kepuasan dan keuntungan antara developer
dengan customer karena aplikasi yang dijalankan dengan negoisasi
sesuai kesepakatan
·
Sangat efektif untuk digunakan karena kesepakatan
antara developer dengan customer sama-sama disepakati sehingga tidak akan
menimbulkan ketidak puasan customer
b.
Kelebihan :
Membutuhkan waktu yang cukup lama2.Seringkali
pada awalnya customer dengan developer mengalami kecekcokkan
pada saat negoisasi
6. Component Based Development
Component-based development sangat berkaitan dengan teknologi
berorientasi objek. Pada pemrograman berorientasi objek, banyak class yang
dibangun dan menjadi komponen dalam suatu software. Class-class tersebut
bersifat reusable artinya bisa digunakan kembali. Model ini bersifat iteratif
atau berulang-ulang prosesnya.
Secara umum proses yang terjadi dalam model ini adalah:
1.
Identifikasi class-class yang akan digunakan kembali dengan
menguji class tersebut dengan data yang akan dimanipulasi dengan aplikasi/software
dan algoritma yang baru
2.
Class yang dibuat pada proyek sebelumnya disimpan dalam class
library, sehingga bisa langsung diambil dari library yang sudah ada. Jika
ternyata ada kebutuhan class baru, maka class baru dibuat dengan metode berorientasi
objek.
3.
Bangun software dengan class-class yang sudah ditentukan atau
class baru yang dibuat, integrasikan.
Penggunaan kembali komponen software yang sudah ada
menguntungkan dari segi:
1. Siklus waktu
pengembangan software,
karena mampu mengurangi waktu 70%
2. Biaya produksi
berkurang sampai 84% arena pembangunan komponen berkurang
Pembangunan software dengan menggunakan komponen yang sudah
tersedia dapat menggunakan komponen COTS (Commercial off-the-shelf) – yang bisa
didapatkan dengan membeli atau komponen yang sudah dibangun sebelumnya secara
internal. Component-Based Software Engineering (CBSE) adalah proses yang
menekankan perancangan dan pembangunan software dengan menggunakan komponen
software yang sudah ada. CBSE terdiri dari dua bagian yang terjadi secara
paralel yaitu software engineering (component-based development) dan domain
engineering.
Berikut adalah
beberapa kekurangan dan kelebihan dari Component Based
Development :
a. Kelebihan
tinggal
mencaplok atau menggunakan program atau komponen yang sudah ada dan menyusunnya
menjadi sebuah program yang lebih kompleks dan berkembang sesuai dengan
kebutuhan user/pengguna sehingga dapat mengefisienkan penggunaan waktu dan
tenaga.Selain itu,model ini juga menyediakan kemampuan untuk memvisualisasikan
hasil rakitan dengan kesanggupan untuk mengukur, menganalisa, merancang dan
merancang ulang program.
b. Kekurangan
seringnya
program atau komponen-komponen terdahulu tidak kompatibel atau sejalan dengan
model perakitan komponen ini sehingga untuk perusahaan berskala kecil akan
kesulitan menemukan komponen yang sesuai untuk dirakit.
7. Formal Method Model
Teknik formal method adalah teknik yang
mengandalkan perhitungan matematika dalam setiap prosesnya. Hanya digunakan pada sistem yang
sangat memperhatikan keamanan atau keselamatan dari pengguna. Contoh penggunaan
teknik ini adalah aerospace engineering.
a. Kelebihan
:
·
meminimalkan resiko dengan adanya perhitungan
komputasi.
b. Kelebihan
:
·
Biaya Tinggi.
·
Kompleks
·
Tidak Umum untuk Proyek Software pada umumnya
c. Contoh
Penerapan dari Method Model
Pada model ini, digunakan notasi matematika
yang terperinci dan penuh ketelitian dalam mengidentifikasi desain dan menguji
sistem yang berbasis komputer. Metode ini sering dipakai untuk spesifikasi yang
detail, rancangan dan verifikasi pada bagian-bagian sistem yang penting
(bersifat kritikal) seperti pada sistem avionic dan aerospace, serta pada
sistem keamanan yang kritikal pada monitor jantung, ATM (Anjungan Tunai
Mandiri) dan pada perbankan.
Secara khusus, metode formal sangat cocok dijalankan pada sistem yang
kompleks
8. 4th Generation
Metode pengembangan perangkat lunak 4GT
menggunakan perangkat bantu (tools) yang akan membuat kode sumber secara
otomatis berdasarkan spesifikasi dari pengembang perangkat lunak. Hanya
digunakan untuk menggunakan perangkat lunak yang menggunakan bahasa
khusus atau notasi grafik yang diselesaikan dengan syarat yang dimengerti
pemakai.
Cakupan aktivitas 4GT meliputi:
1.
Pengumpulan kebutuhan, idealnya pelanggan akan
menjelaskan kebutuhan yang akan ditranslasikan ke prototype operasional.
2.
Translasi kebutuhan menjadi prototype
operasional, atau langsung melakukan implementasi secara langsung dengan
menggunakan bahasa generasi keempat (4GL) jika aplikasi relatif kecil.
3.
Untuk aplikasi yang cukup besar, dibutuhkan
strategi perancangan sistem walaupun 4GL akan digunakan.
4.
Pengujian.
5.
Membuat dokumentasi.
6.
Melaksanakan seluruh aktivitas untuk
mengintegrasikan solusi-solusi yang membutuhkan paradigma rekayasa perangkat
lunak lainnya.
a.
Kelebihan
:
·
Pengurangan waktu dan peningkatan
produktivitas secara besar
·
Karena 4GT menggunakan 4GL yang merupakan
bahasa pemrograman yang khusus dirancang dengan tujuan tertentu
(spesifik), maka untuk permasalahan yang tertentu dengan 4GL tertentu pula
sangat tepat menggunakan 4GT.
·
Tool yang menggunakan metode pengembangan
perangkat lunak 4GL bisa meng-generate sistem dari output yang dihasilkan
oleh CASE tools.
b.
Kekurangan :
·
Penggunaan perangkat bantu (tools)
dibandingkan dengan bahasa pemrograman, dan juga kode sumber yang dihasilkannya
tidak efisien.
·
Untuk usaha yang besar, dibutuhkan
pengembangan strategi desain untuk sistem, walau digunakan bahasa 4GL.
·
Penggunaan 4GT tanpa perencanaan matang (untuk
proyek besar) akan menyebabkan kesulitan yang sama (kualitas dan pemeliharaan
yang jelek, ketidakpuasan pelanggan) seperti dengan metode konvensional.
·
4GL tidak selalu berhasil menghasilkan sistem
yang diinginkan.
c.
Contoh Penerapan dari 4th Generation
Model ini diaplikasikan
untuk mengembangkan perangkat lunak yang memakai
bentuk bahasa khusus atau notasi grafik yang dieksekusi/diselesaikan dengan
syarat atau ketentuan yang dipahami oleh pemakai/pengguna/kustomer
8. V – MODEL

a. Pengertian
Model V
Model ini merupakan perluasan dari model waterfall.
Disebut sebagai perluasan karena tahap-tahapnya mirip dengan yang terdapat
dalam model waterfall. Jika dalam model waterfall proses dijalankan secara
linear, maka dalam model V proses dilakukan bercabang. Dalam model V ini
digambarkan hubungan antara tahap pengembangan software dengan tahap
pengujiannya.
Berikut penjelasan
masing-masing tahap beserta tahap pengujiannya:
1.
Requirement Analysis & Acceptance Testing
Tahap
Requirement Analysis sama seperti yang terdapat dalam model waterfall. Keluaran
dari tahap ini adalah dokumentasi kebutuhan pengguna. Acceptance Testing merupakan tahap yang akan mengkaji apakah
dokumentasi yang dihasilkan tersebut dapat diterima oleh para pengguna atau
tidak.
2.
System Design & System Testin
Dalam
tahap ini analis sistem mulai merancang sistem dengan mengacu pada dokumentasi
kebutuhan pengguna yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya. Keluaran dari tahap
ini adalah spesifikasi software yang meliputi organisasi sistem secara umum,
struktur data, dan yang lain. Selain itu tahap ini juga menghasilkan contoh
tampilan window dan juga dokumentasi teknik yang lain seperti Entity Diagram
dan Data Dictionary.
3.
Architecture Design & Integration Testing
Sering
juga disebut High Level Design. Dasar dari pemilihan arsitektur yang akan
digunakan berdasar kepada beberapa hal seperti: pemakaian kembali tiap modul,
ketergantungan tabel dalam basis data, hubungan antar interface, detail
teknologi yang dipakai.
4.
Module Design & Unit Testing
Sering
juga disebut sebagai Low Level Design. Perancangan dipecah menjadi modul-modul
yang lebih kecil. Setiap modul tersebut diberi penjelasan yang cukup untuk
memudahkan programmer melakukan coding. Tahap ini menghasilkan spesifikasi
program seperti: fungsi dan logika tiap modul, pesan kesalahan, proses
input-output untuk tiap modul, dan lain-lain.
5.
Coding
Dalam
tahap ini dilakukan pemrograman terhadap setiap modul yang sudah dibentuk.
b. Keuntungan
V Model
Bahasa
yang digunakan untuk merepresentasikan konsep V model menggunakan bahasa
formal. Contoh : dengan menggunakan objek model ataupun frame-frame •
Meminimalisasikan kesalahan pada hasil akhir karena ada test pada setiap
prosesnya
·
Penyesuaian yang cepat pada projek yang baru
·
Memudahkan dalam pembuatan dokumen projek
·
Biaya yang murah dalam perawatan dan
modifikasinya
·
V Model sangat fleksibel. V Model mendukung
project tailoring dan penambahan dan pengurangan method dan tool secara
dinamik. Akibatnya sangat mudah untuk melakukan tailoring pada V Model agar
sesuai dengan suatu proyek tertentu dan sangat mudah untuk menambahkan method
dan tool baru atau menghilangkan method dan tool yang dianggap sudah obsolete.
·
V Model dikembangkan dan di-maintain oleh
publik. User dari V Model berpartisipasi dalam change control board yang
memproses semua change request terhadap V Model
c. Keuntungan V Model
c. Keuntungan V Model
Aktifitas V-Model hanya difokuskan pada projectnya saja,
bukan pada keseluruhan organisasi. V-Model adalah proses model yang hanya
dikerjakan sekali selama project saja, bukan keseluruhan organisasi.
·
Prosesnya hanya secara sementara. Ketika
project selesai, jalannya proses model dihentikan. Tidak berlangsung untuk
keseluruhan organisasi.
·
Metode yang ditawarkan terbatas. Sehingga
kita tidak memiliki cara pandang dari metode yang lain. Kita tidak memiliki
kesempatan untuk mempertimbangkan jika ada tools lain yang lebih baik.
·
oolnya tidak selengkap yang dibicarakan. SDE
(Software Development Environment).Tidak ada tools untuk hardware di V-Model.
Tool yang dimaksud adalah “software yang mendukung pengembangan atau pemeliharaan
/ modifikasi dari system IT.
·
V Model adalah model yang project oriented
sehingga hanya bisa digunakan sekali dalam suatu proyek.
·
V Model terlalu fleksibel dalam arti ada
beberapa activity dalam V Model yang digambarkan terlalu abstrak sehingga tidak
bisa diketahui dengan jelas apa yang termasuk dalam activity tersebut dan apa
yang tidak.
d. Contoh
Penerapan dari V Model
·
Dalam proyek teknologi informasi di Jerman
·
V Model dibandingkan dengan CMM
·
V Model didesain untuk mengembangkan sistem
yang didalamnya terdapat dua komponen
·
Pengembangan V Model dalam bidang industri
dapat dilakukan dengan mudah
Referensi :
http://aryapramana.blogspot.co.id/2011/09/model-proses-rekayasa-perangkat-lunak.html
http://andrenazar.blogspot.co.id/2015/11/model-proses-perangkat-lunak_11.html
http://dibyosusanto.blogspot.co.id/2015/08/model-proses-perangkat-lunak.html
https://murtri.wordpress.com/2014/08/25/model-model-pengembangan-perangkat-lunak-beserta-contoh-penerapannya/
http://fiskaregina88.blogspot.co.id/2014/08/model-pengembangan-perangkat-lunak.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar